Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Maret 2016

CATATAN SEORANG DOKTER

Sejak pulang dari itikaf di masjid selama tiga  hari bersama jamaah dakwah, dokter Agus menjadi pribadi yang berbeda. Sedikit-sedikit bicaranya Alloh, sedikit-sedikit bicaranya Rasulullah.

Cara makan dan cara tidurnya pun berbeda, katanya itulah cara tidur Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Rupanya, pengalaman itikaf dan belajar di masjid betul-betul berkesan baginya. Ada semangat baru.

Namun beliau juga jadi lebih banyak merenung. Dia selalu teringat-ingat dengan kalimat yang dibicarakan amir jamaah. 

“Obat tidak dapat menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah Alloh.

Obat bisa menyembuhkan berhajat kepada Alloh, karena sunnatullah. 

Sedang Alloh menyembuhkan, tidak berhajat melalui obat. 

Alloh bisa menyembuhkan dengan obat atau bahkan tanpa obat.

Yang menyembuhkan bukanlah obat, yang menyembuhkan adalah Alloh.”

Dia-pun merenung, bukan hanya obat, bahkan dokter pun tidak punya upaya untuk memberi kesembuhan. Yang memberi kesembuhan adalah Alloh. 

Sejak itu, sebelum memeriksa pasiennya, ia selalu bertanya.

“Bapak sebelum kesini sudah izin dulu kepada Alloh?” atau “Sudah berdoa meminta kesembuhan kepada Alloh?” atau “Sudah lapor dulu kepada Alloh?"

Jika dijawab belum (kebanyakan memang belum), beliau meminta pasien tersebut mengambil air wudhu, dan shalat dua rakaat di tempat yang telah disediakan

Jika memberikan obat, beliau pun berpesan dengan kalimat yang sama. “Obat tidak bisa menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah Alloh. Namun berobat adalah sunnah dari Rasululloh shallallahu 'alaihi wasallam dan sebagai ikhtiar dan sunnatullah, agar Alloh mau menyembuhkan”.

Ajaib! banyak pasien yang sembuh.

Jika diperiksa dengan ilmu medis, peluang sehatnya hampir tidak ada, ketika diberikan terapi “Yakin” yang diberikan beliau, menjadi sehat.

Pernah ada pasien yang mengeluh sakit, beliau minta agar orang tsb untuk shalat dua rakaat (minta ampun dan minta kesembuhan kepada Alloh), ketika selesai shalat pasien tersebut langsung merasa sehat dan tidak jadi berobat. 

Rudi, Asistennya bertanya, kenapa dia langsung sembuh? 
Dr. Agus katakan, bisa jadi sumber sakitnya ada di hati, hati yang gersang karena jauh dari Alloh. 

Efek lain adalah pasiennya pulang dalam keadaan senang dan gembira. Karena tidak hanya fisiknya yang diobati, namun batinnya pun terobati. 

Hati yang sehat, membuat fisik yang kuat. Dan sebaik-baik obat hati adalah Dzikir, Al-Quran, Wudhu, Shalat, Do'a dan tawakal pada Alloh.

Pernah ada pasien yang jantungnya bermasalah dan harus dioperasi. 

Selain “Yakin”, beliau juga mengajarkan terapi cara hidup Rasululloh. Pasien tersebut diminta mengamalkan satu sunnah saja, yaitu sunnah tidur. Sebelum tidur berwudhu, kalau bisa shalat dua rakaat, berdoa, berdzkir, menutup aurat, posisi kanan adalah kiblat, dan tubuh miring ke kanan.

Seminggu kemudian, pasien tersebut diperiksa. Alhamdulillah, tidak perlu dilakukan operasi. Alloh telah memberi kesembuhan atasnya.

Ada juga pasien yang ginjalnya bermasalah. Beliau minta agar pasien tersebut mengamalkan sunnah makan dan sunnah di dalam WC. 
Makan dengan duduk sunnah sehingga posisi tubuh otomatis membagi perut menjadi 3 (udara, makanan, dan air). Kemudian buang air kecil dengan cara duduk sunnah, menguras habis-habis kencing yang tersisa dengan berdehem 3 kali, mengurut, dan membasuhnya dengan bersih. 

Seminggu kemudian, saat diperiksa ternyata Alloh berikan kesembuhan kepada orang tersebut.

Rudi pernah sedikit protes. 
Sejak melibatkan Alloh, pasiennya jadi jarang bolak-balik dan berisiko mengurangi pendapatan beliau.
Namun Dr. Agus katakan bahwa rezeki adalah urusan Alloh. Dan beliau jawab dengan kalimat yang sama dengan redaksi yang berbeda, bahwa “Sakitnya pasien tidak dapat mendatangkan rezeki, yang memberi rezeki adalah Alloh. 
Alloh juga bisa mendatangkan rezeki tanpa melalui sakitnya pasien”.

Enam bulan berikutnya seorang pasien yang pernah sembuh karena diminta shalat oleh beliau, datang ke klinik, mengucapkan terima kasih, dan berniat mengajak dokter serta asistennya umroh bulan depan. 

Dr. Agus kemudian memanggil Rudi ke dalam ruangan. Sebenarnya beliau tahu bahwa Rudi ingin:  sekali berangkat umrah. Namun kali ini beliau ingin bertanya langsung dengannya.

“Rudi, bapak ini mengajak kita untuk umrah bulan depan, kamu bersedia?”

Rudi tidak menjawab, namun matanya berbinar, air matanya tampak mau jatuh.
“Sebelum menjawab, saya izin shalat dulu pak,” ucapnya lirih. Ia shalat lama sekali, sepertinya ini shalat dia yang paling khusyu'.

Pelan, terdengar dia terisak-isak menangis dalam doanya.

(Dr Agus Thosin, SpJP praktek di RSAI Bandung‎).

Sumber : https://plus.google.com/114454831272476932056/posts/T4ggpTkLVTv


Selasa, 22 Maret 2016

BANGKIT DARI KEBANGKRUTAN DENGAN SEDEKAH


Catatan DeHa - Kisah keajaiban sedekah kali ini akan menceritakan cerita yang menginspirasi, yaitu bangkit dari bangkrut. Sebelumnya mari kita simak sebuah hadits riwayat Muslim berikut ini:
“Sebaik-baik sedekah adalah sedekah dari orang yang harta bendanya sedikit.” (HR. Muslim)
Ada sahabat yang mengasumsikannya menjadi lebih ekstrim. Sedekah terbaik adalah pada saat kamu habis-habisan, begitulah ujarnya... Namun, habis-habisan bagi dia adalah bangkrut sebangkrut-bangkrutnya dalam hal apapun. Bangkrut yang dimaksud disini bisa diartikan sedang terkena musibah, usaha yang dibangun hancur lebur, menderita sakit berat, ditipu orang, menghadapi masalah berat dan lain-lain.
Ada sebuah kisah keajaiban sedekah yang dirasakan sahabat. Sebut saja namanya Timbul. Timbul adalah seorang pengusaha properti yang sukses, pemilik usaha cuci mobil, seorang pewaralaba toko retail terkenal, seorang pembicara seminar wirausaha dan seorang motivator.
Mulai tahun 2003 hingga tahun 2005 perkembangan usahanya sangatlah pesat. Bahkan terhitung luar biasa. Hingga pada akhirnya Timbur tergiur untuk ekspansi usahanya menjadi lebih besar dari yang ada saat ini dan memutuskan untuk bekerjasama dengan partner barunya.
Dalam perjalanan bisnisnya, sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Mitra kerjanya mengkhianati dan menipu Timbul. Sehingga usahanya yang lain ikut hancur-hancuran. Asset yang dia bangun bertahun-tahun habis, bahkan meninggalkan hutang hingga minus 5 milyar. Timbul harus menanggung beban hutang di bank yang digunakan untuk menambah modal usaha di awal-awal merintis dulu.
Nah, disinilah awal dari kisah keajaiban sedekah yang dia alami. Dalam kondisi bangkrut dan habis-habisan Timbul tetap berpikir positif, tidak menyendiri dan punya semangat untuk bangkit sangat besar.
Timbul lalu mencari referensi cara mengatasi kebangkrutannya dalam kondisi habis-habisan saat itu. Timbul melakukan langkah-langkah seperti ini:
Mohon maaf kepada Allah dan orang tua dengan rendah hati atas semua kesalahan, kelalaian dan kesombongannya saat berada diatas. Bahkan bersimpuh di kaki orang tua pada saat minta maafpun dilakukannya. Silaturahmi ke sahabat-sahabat yang dia ingat, khususnya yang pernah disakitinya.

Minta maaf, minta motivasi dan minta saran solusi dari kebangkrutan. Temannya merekomendasikan untuk sedekah brutal, merutinkan shalat dhuha dan tahajud.
Timbul melakukan aksi gila yaitu sedekah brutal. Menyedekahkan semua asset yang ada kecuali yang untuk bertahan hidup dan untuk keperluan sehari-hari menafkahi anak istri.
Merutinkan shalat dhuha 4 rakaat, 2 rakaat tiap kali salam. Juga merutinkan shalat tahajud di sepertiga malam yang akhir (dini hari).
Dengan semangat yang luar biasa dan sabar, perlahan Allah mulai mengabulkannya. Hanya dalam waktu tiga tahun Timbul sudah bisa menyelesaikan bebannya. Mulai tahun keempat Timbul sudah mulai surplus dan tahun berikutnya surplus bermilyar-milyar. Itulah kisah keajaiban sedekah yang dirasakan Timbul.
Belajar dari pengalaman tersebut, Timbul selalu berusaha untuk merutinkan sedekah, shalat dhuha dan shalat tahajud. Tentunya tidak lupa selalu berdoa. Bagaimana sahabat? Sungguh luar biasa kisah keajaiban sedekah diatas...
Semoga bermanfaat...
sumber : https://plus.google.com/+NovitaAnggunH/posts/b9z9ewe5SmY


Jangan Biarkan Ucapan Orang Lain Meruntuhkan Dirimu

KITA TIDAK BISA MENYURUH DUNIA DIAM

Dalam kehidupan social, kita akan bertemu banyak orang. Mereka dengan bebas berkata, yang mungkin saja merendahkan kita, menyepelekan kita, baik dengan kata-kata langsung, maupun secara tersirat. Baik hanya sekedar memberikan penilaian dan memberi masukan. Tidak menutup kemungkinan, mungkin saja ada orang yang sengaja ingin menghancurkan motivasi Anda.
Tidak nyaman didengar? Memang. Saya merasakannya juga. Tapi sayangnya, kita tidak bisa menyuruh dunia diam. Kita tidak bisa menyuruh semua manusia yang kita temui hanya mengatakan hal-hal yang positif saja. Kita tidak bisa membungkam semua orang agar tidak menghina, mencaci, dan merendahkan kita.
Bahkan, saat Anda pun berbuat baik kepada orang lain, tidak dijamin sikap mereka akan baik juga kepada Anda. Kita semua mengetahui bagaimana tingginya akhlaq Rasulullah SAW, namun tetap saja ada yang membenci, mengolok-olok, memfitnah, bahkan ingin mencelakakan beliau.
Jadi, tidak usah berkecil hati, saat Anda masih mendengar kata-kata negatif dari orang lain terhadap diri Anda.

Kuncinya Adalah Bagaimana Anda Menyikapinya

Mengubah dunia itu tidak mungkin. Tapi mengubah diri sendiri sangat mungkin. Anda tidak perlu berkecil hati, motivasi diri menjadi ciut, atau kepercayaan diri menjadi turun. Tidak, tidak perlu seperti itu. Sikapi semua dengan positif.
Yang perlu Anda ketahui adalah Anda bisa mengendalikan perasaan Anda. Anda juga bisa membentuk melatih sikap terhadap berbagai perkataan menyakitkan itu. Tidak mudah memang, dibutuhkan latihan dan peningkatan secara bertahap.
Salah satu cara agar emosi tidak terpancing adalah tidak reaktif. Jangan langsung bereaksi saat Anda mendengar kata-kata menyakitkan, termasuk membaca status atau komentar di social media. Biarkan sejenak, jika perlu sampai sehari sampai Anda bisa menanggapinya dengan kepala yang dingin.
Bahkan sering kali, jika ada kata-kata menyakitkan, lebih baik diabaikan saja. Tidak perlu membela diri, tidak perlu membalas. Jika itu sebuah fitnah, cukup menjelaskan saja kebenarannya. Kalau pun harus berurusan menuntut secara hukum karena merugikan, tetap lakukan dengan kepala dingin.

Emosi Negatif Merugikan Diri Sendiri

Jika kita biarkan diri kita emosi, kemudian kita pupuk emosi itu dengan pertengkaran, perdebatan tidak kunjung selesai, saling sindir, atau malah memikirkannya, maka akan semakin emosi negatif dalam diri Anda. Emosi negatif itu merugikan. Baik bagi kesehatan, motivasi, bahkan bagi bisnis.
Emosi negatif seperti kolesterol yang menyumbat darah. Emosi negatif bisa menyumbat energi yang pada ujungnya bisa menyumbat kesehatan dan rezeki Anda. Emosi negatif menjadikan kita lupa bersyukur, sebab pikiran akan mengikuti emosi yang isinya semua negatif.
Emosi negatif itu salah satunya marah. Tapi bukan marah saja, termasuk sakit hati, kecewa, dendam, sakit hati, dan sebagainya. Emosi negatif berawal dari perasaan, dan Anda bisa mengendalikan perasaan Anda. Kuncinya Anda yakin bahwa Anda bisa mengendalikan.
Emosi negatif jika dibiarkan akan menjadi luka emosi. Luka emosi akan menjadikan diri kita sangat rentan dan over protektif. Pada akhirnya akan merusak citra diri. Citra diri akan merusak percaya diri. Turunnya kepercayaan diri, akan menurunkan peluang untuk meraih sukses.
Katakan, “Saya bisa mengendalikan perasaan. Saya orang yang shabar. Orang shabar disayang Allah dan memiliki kekuatan yang besar.”
Ayo, katakan kalimat diatas berulang kali, sampai meresap ke dalam hati Anda.

Fokuslah Pada Diri Sendiri dan Orang-orang Yang Anda Sayangi


Anda adalah orang yang penting. Anda adalah orang yang berharga. Apalagi saat ada orang-orang yang bergantung pada diri Anda. Apalagi jika orang-orang disekitar Anda menyayangi Anda.
Sungguh rugi, jika pikiran kita hanya memikirkan kata-kata orang lain itu. Jauh lebih penting, waktu dan energi Anda digunakan untuk perbaikan diri sendiri dan untuk membahagiakan orang-orang yang Anda sayangi dan menyayangi Anda. Jauh lebih penting jika waktu dan energi Anda digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, untuk beribadah, berdakwah, dan berjihad dijalan Allah.
Sadarilah, Anda adalah sangat berharga. Berharga bagi diri Anda dan orang-orang tercinta. Jauh lebih berharga dari perkataan dan anggapan orang kepada Anda.

Maafkan Mereka dan Sayangi Mereka

“Bagaimana mungkin? Mereka menyakiti saya, kenapa harus memaafkan dan menyayangi mereka?”
Anda adalah orang yang beruntung. Anda adalah orang baik, orang yang mulia, orang yang berakhlaq mulia. Anda tidak suka menyakiti, tidak suka memaki, tidak suka merendahkan, Anda tidak memfitnah. Artinya Anda beruntung memiliki sikap mulia. Jangan kotori dengan membalas mereka. Jika Anda membalas, artinya Anda sama saja dengan mereka. Jangan rendahkan diri Anda.
Justru, jadilah orang yang lebih baik. Bukan dengan cara menyombongkan diri, justru dengan memiliki jiwa pemaaf dan pengasih. Maafkan mereka. Bukan untuk mereka, tapi untuk kebaikan diri Anda sendiri. Memaafkan sebenarnya untuk kepentingan diri sendiri.
Do’akan mereka, agar mereka menyadari kesalahan mereka. Mungkin mereka sedang dalam kondisi tidak baik. Mungkin mereka tidak bahagia. Semoga Allah segera memperbaiki kondisi mereka dan membahagiakan mereka sehingga tidak lagi bersikap negatif.

Mungkin Ini Cara Allah Untuk Memperbaiki dan Mendewasakan Anda

Terlepas apakah yang dikatakan orang tentang Anda itu benar atau tidak, tapi jika kita menyikapinya dengan positif, itu akan berakibat baik untuk kita. Mungkin, ini cara Allah untuk memperbaiki dan mendewasakan kita. Kita terlatih, lebih kalm, lebih tenang, saat menghadapi hal-hal yang menyakitkan.
Ketenangan akan mendatangkan hikmah. Jika kita sakit hati atau emosi, bisa saja kita lepas atau tidak berhasil menangkap makna dari apa yang terjadi. Ketenangan memberikan kesempatan kepada kita untuk berpikir lebih jernih, sehingga mampu menangkap makna dan hikmah yang besar dari setiap kejadian.

Saya Sadar Ini Sulit, Tapi In syaa Allah Bisa

Jika Anda pikir, bahwa untuk memiliki sikap ideal itu sulit, maka saya setuju dengan Anda. Saya sendiri mengalami kesulitan itu dan sampai saat ini belumlah sempurna. Tapi saya yakin, jika kita terus berusaha, semakin hari akan semakin baik.
Tidak apa-apa, jika saat mencoba Anda masih gagal. Yang penting jangan menyerah. Teruslah mencoba untuk selalu tenang dan menyikapi segala kata-kata menyakitkan. Kata pada diri Anda, kalau Anda bisa bershabar. Yakinlah, yakinlah. Tumbuhkan kesadaran kalau diri Anda jauh lebih penting dari sekedar cemoohan itu.
Saya menulis ini bukan berarti saya sudah menjadi orang yang bijak. Tidak. Tapi ini adalah hasil pengalaman saya belajar memperbaiki diri. Saya bagikan kepada Anda, agar kita bisa sama-sama belajar.
Semoga Allah menjadikan kita orang yang mulia dengan kesabarannya. Dan bagaimana pun kata-kata menyakitkan itu datang, tidak akan menghancurkan motivasi kita.

sumber :motivasi-islami.com