Bali United akan menjadi lawan Persib Bandung dalam babak semifinal Piala Bhayangkara, Rabu (30/3/2016) mendatang di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung.
Bali United merangsek naik ke posisi runner up klasemen grup B setelah menandukkan PS Polri 1-0 di Stadion I Wayan Dipta, Minggu (27/3/2016) malam. Kemenangan Serdadu Tridatu ditentukan lewat tandukkan Yabes Roni di menit ke-23.
Usai menaklukkan PS Polri, anak-anak Pelatih Indra Sjafri itu mengantongi 6 poin dan hanya terpaut satu poin dari juara grup B, Arema Cronus.Menatap laga kedua tim pada babak knock-out nanti, Asisten Pelatih Persib Herrie Setyawan mengatakan bahwa sang pelatih kepala, Dejan Antonic tetap mempersiapkan timnya untuk mengalahkan Bali United. “Pokoknya Dejan tidak menganggap siapa lawan bagaimana mereka bermain yang jelas Dejan tetap terobsesi untuk mempersiapkan timnya, siapapun lawan kita di semi final, karena ini merupakan langkah yang penting kalau kita mau ke final,” kata Herrie melalui sambungan telepon, Minggu (27/3) malam.seperti dikutip tribunjabar
Kendati begitu, kata Herrie, laga kontra Bali United bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Pasalnya, Bali United mampu menahan imbang Persib 1-1 dalam turnamen Bali Island Cup (BIC) 2016, 21 Februari 2016 lalu. “Pasti bisa jadi modal bagi kita untuk pertandingan berikutnya, Bali United dan Persib sudah mengantongi kekuatan dan kelemahan masing-masing, Insya Allah kalau kita kerja keras hasilnya bisa optimal,” kata Herrie. “Dejan memprediksi bahwa melawan Bali United akan seperti bagaimana, kita sering berjumpa dengan Bali United, coach tentunya sudah memiliki catatan,” ujarnya.
Sumber : Info Terkini Persib
Minggu, 27 Maret 2016
PERSIB akan melawan Bali United di Semifinal Piala Bhayangkara 2016
BOBOTOH : Kultur yang tak pernah mati dari Generasi ke Generasi
Bobotoh: Kultur yang Tak Pernah Mati dari Generasi ke Generasi
M.Rezky Agustyananto
Bobotoh bukan kelompok suporter. Bobotoh adalah sebuah kultur, yang dilestarikan turun temurun dulu sampai sekarang. Dan mereka tak akan pernah mati, tulis ekkyrezky ...
Ada satu kebiasaan yang muncul ketika kakek saya beranjak semakin tua: bercerita.
Ceritanya tentu tak jauh dari pengalaman hidupnya terdahulu. Kakek saya dulunya adalah seorang wartawan, yang kelak juga menjadi ketua PWI dan Antara di Lampung. Agus S. Soelaeman, namanya. Tetapi, meski akhirnya mendapatkan jabatan besar itu di Lampung, di Bandung lah beliau meniti kariernya, di kota tempat beliau lahir dan tumbuh dewasa.
Banyak hal yang ia ceritakan, berulang-ulang, pada saya. Mulai dari alasannya menjadi wartawan hingga bagaimana ia harus bekerja keras menulis ulang berita pada 30 September 1965 karena kabar bohong yang disiarkan dari PKI. Di antara sekian banyak cerita yang ia kisahkan berulang-ulang, ada satu cerita yang menarik yang terus saya ingat, yaitu tentang bagaimana kencan pertamanya dengan nenek saya.
Bukan, bukan soal kisah cinta mereka yang membuat kisah ini menarik. Tapi pengalamannya ketika pertama kali mengantar nenek saya pulang, lalu diajak paman nenek saya menonton Persib Bandung bersama-sama karena rumah nenek saya memang hanya beberapa meter dari Stadion Siliwangi.
Saya sudah mendengar cerita ini berkali-kali, tapi kesan yang saya dapatkan tetap sama. Sungguh unik, dua orang yang berbeda usia cukup jauh dan baru bertemu pertama kali, bisa berjalan bersama ke stadion dan menonton tim sepakbola lokal bersama-sama.
Kejadian seperti ini mungkin sulit terjadi di Jakarta di era sekarang. Atau juga di kota-kota lainnya di Indonesia. Tapi hal ini mungkin terjadi di Bandung, kota dengan kultur suporter yang begitu kuat sejak dulu.
Kuatnya kultur suporter di Bandung (dan Jawa Barat pada umumnya) memang sudah terjadi sejak dulu. “Sejak Datuk (panggilan saya untuk kakek) kecil, orang Bandung pasti dukung Persib,” katanya. Tak peduli tua atau muda, semua orang pasti berbondong-bondong ke stadion ketika Persib bertanding.
Menariknya, sebetulnya fenomena dukungan yang masif dari warga Bandung ini bukan hanya untuk sepakbola semata. Ibu saya, yang juga lahir dan besar di Bandung, mengatakan kalau semua cabang olahraga yang diperkuat oleh orang Bandung pasti mendapatkan dukungan yang besar. Baik itu tinju maupun bulutangkis.
"Asal dari Bandung, apalagi juara, dukungan orang Bandung pasti kuat. Dari orang tua sampai anak-anak. Makanya (anak-anak) sampai tua pun tetep dukung," kisahnya pada saya.
"Asal dari Bandung, apalagi juara, dukungan orang Bandung pasti kuat. Dari orang tua sampai anak-anak"
Sebetulnya kultur mendukung Persib ini tidak hanya berkembang. Meski berkandang dan bernamakan kota Bandung, tetapi kultur mendukung Persib ini juga terjadi di Jawa Barat secara keseluruhan. Usep Romli, seorang sastrawan Sunda kelahiran Garut, pernah menuliskan pengalamannya mendukung Persib sejak remaja.
Tidak, beliau bukan warga Bandung. Beliau lahir dan besar di Garut, dan ketika remaja, dengan uang pas-pasan, beliau sebisa mungkin pergi ke Bandung untuk mendukung Persib langsung di stadion. Menumpang truk minyak kelapa pun dijalani, selain juga berusaha mencari uang saku dengan menjual kayu bakar atau telur ayam (tetangga). Bolos sekolah pun tak masalah. Pengorbanan yang “sepadan” untuk mendukung klub yang dicintai.
Bobotoh Memang Ada dari Dulu
“Bobotoh Persib telah ada sejak dulu. Paling tidak, saya mengalami sendiri akhir tahun 1959 hingga 1964,” tulis Usep Romli di artikelnya.
Kakek saya pun mengamini. “Sejak Datuk kecil, memang sebutannya sudah Bobotoh.” Tak ada yang tahu persis kapan istilah ini muncul. Mungkin karena memang ini Bahasa Sunda dari ‘pendukung’, sehingga istilah ini begitu saja digunakan oleh orang-orang Sunda untuk menyebut pendukung Persib.
"Banyak yang salah mengartikan Bobotoh sebagai nama kelompok pendukung Maung Bandung, padahal tidak demikian. Istilah ini adalah untuk semua pendukung Persib tanpa kecuali"
Banyak yang salah mengartikan Bobotoh sebagai nama kelompok pendukung Maung Bandung, padahal tidak demikian. Istilah ini adalah untuk semua pendukung Persib tanpa kecuali, baik yang tergabung di organisasi/kelompok pendukung khusus seperti Viking, Bomber, dll. maupun yang tidak. Kelompok-kelompok pendukung ini sendiri sebetulnya baru muncul di era 1990an, setelah Persib mengalami masa-masa emas dengan merebut dua gelar Perserikatan dalam empat tahun, yaitu tahun 1986 dan 1990.
Apa yang berbeda dengan bobotoh dulu dan bobotoh sekarang? Penyair Sunda Ami Raksanagara pernah menulis di Majalah Mangle edisi 2366 bahwa antusiasme bobotoh pada Persib tak pernah berkurang dari waktu ke waktu, dan hanya cara para bobotoh mengekspresikannya saja yang berbeda.
Hal menarik juga diceritakan oleh Usep Romli. “Seingat saya selama lima tahun menjadi penonton setia Persib, tak pernah ada keributan gara-gara ulah bobotoh,” katanya. “Para bobotoh era 1950-an dan 1960-an, tahu sekali, jika mereka berbuat neko-neko, justru akan membebani mental pemain. Akan mengganggu konsentrasi dan mutu permainan para kampiun bola Persib yang terkenal tenang, matang dan lincah.”
Lantas mengapa dalam perkembangannya sejak era Liga Indonesia, bobotoh mulai ikut terseret ke lembah persaingan yang tak jarang mengarah ke kekerasan fisik?
Dalam tulisan yang sama, Usep Romli menulis, bahwa mungkin saja “amuk-amukan” – meminjam istilah yang digunakan Usep – mulai sering terjadi adalah akibat ketidakpuasan bobotoh karena Persib tidak lagi menghargai bibit-bibit pemain lokal dan lebih memanjakan pemain asing.
Persib dulu memang sangat menghargai bakat-bakat lokal. Dari era Aang Witarsa di 1950an sampai Robby Darwis di tahun 1980-1990an, bakat lokal selalu jadi pilihan utama Persib. Barangkali fakta inilah yang membuat bobotoh memiliki hubungan emosional yang kuat dengan Persib: karena Persib benar-benar mewakili orang Jawa Barat pada umumnya, dan orang Bandung pada khususnya. Seperti yang dikatakan oleh ibu saya, “Asal dari Bandung, apalagi juara, dukungan orang Bandung pasti kuat.”
Sekarang, prioritas itu bergeser pada pemain asing maupun pemain bintang lokal yang bukan orang Bandung atau Jawa Barat. Sementara pemain asli Persib sendiri sering kurang mendapatkan tempat. “Pemain jebolan Persib U-21 banyak yang ‘ditendang’ keluar, padahal punya kemampuan yg enggak kalah bagus buat jadi sekadar pemain pelapis,” aku Rizky Firmansyah, seorang bobotoh yang saya hubungi.
“Saya sering kepoin akun IG (Instagram) mantan Persib U-21, masih ada banyak bobotoh yang minta mereka buat balik ke Persib, kayak Erwin (Ramdani) yang pemain PS TNI itu.”
Meski hubungan emosi itu terganggu dengan minimnya prioritas yang diberikan Persib pada pemain-pemain aslinya sendiri, tidak berarti mereka berhenti mendukung Maung Bandung. Lihat saja, contohnya, betapa besarnya antusiasme bobotoh ketika Persib lolos ke final Indonesia Super League (ISL) 2014 dan Piala Presiden 2015. Jauh-jauh ke Palembang pun mereka hadapi demi menonton Persib juara, dan bertandang ke Jakarta yang beresiko tinggi karena merupakan ‘kandang’ dari The Jakmania, rival mereka, juga tak menyurutkan antusiasme mereka. Stadion Jakabaring, venue final ISL 2014, dan GBK di final Piala Presiden 2015, benar-benar penuh dengan bobotoh.
Sumber :fourfourtwo.com
Sabtu, 26 Maret 2016
YANTO BASNA SUDAH TIDAK CANGGUNG
Pemain belakang, Rudolof Yanto Basna berharap kembali mendapat kepercayaan tampil membela PERSIB. Tampil dua kali penuh selama 90 menit pada dua laga Maung Bandung sebelumnya, membuat pemain asa Papua ini merasa semakin tumbuh kekompakan bersama pemain lainnya.
Basna pertama kali tampil saat menghadapi Pusamania Borneo FC, menempati posisi sebagai bek kanan tidak membuatnya canggung bekerjasama dengan pemain senior lainnya. Begitu juga saat menghadapi PS TNI untuk mengisi posisi stopper yang ditinggalkan Vladimir Vujovic.
"Saya senang kalau dipercaya kembali main, komunikasi dan kerja sama dengan pemain lainnya terus membaik. Mudah-mudahan ke depan semakin baik," kata Basna.
Pemain bernomor punggung 31 ini mengaku, pada laga pamungkas Grup A turnamen Piala Bhayangkara kontra Sriwijaya FC malam nanti, dia siap tampil maksimal. Keinginannya, membawa PERSIB menjadi juara grup dan saat semifinal menjadi tuan rumah.
"Siap menghadapi pertandingan. Mudah-mudahan lancar dan kita siap kerja keras untuk meraih kemenangan," ucapnya.
sumber : persib.co.id
Jumat, 25 Maret 2016
MANAJER TUNTUT PERSIB BANDUNG KALAHKAN SRIWIJAYA FC
Umuh Muchtar ingin Maung Bandung merengkuh tiga poin ketika menghadapi Sriwijaya FC pada laga terakhir Grup A.
Turnamen Piala Bhayangkara 2016 telah memastikan Persib Bandung dan Sriwijaya FC sebagai dua tim yang berhak lolos mewakili Grup A ke semi-final. Kedua tim pun bakal bentrok, Sabtu (26/3) esok.
Kendati partai tersebut tak menentukan status kedua sebagai semi-finalis, namun kemenangan bisa membuat salah satu dari mereka menjadi tuan rumah saat laga semi-final.
Manajer Persib, Umuh Muchtar menginginkan Maung Bandung tetap habis-habisan demi mengudeta posisi puncak agar bisa menjadi tuan rumah. "Ingin jadi tuan rumah di semi-final maka itu harus bisa full menang tiga poin, kita minta doa dari semua," katanya dikutip laman Simamaung .
Sriwijaya sendiri bisa dibilang sudah akrab dengan atmosfer Stadion Si Jalak Harupat dan bermain di hadapan Bobotoh. Tak lain karena banyak eks Persib yang kini jadi pemain pilar dari tim Laskar Wong Kito . Sebut saja Achmad Jufriyanto, Supardi, Ridwan hingga Firman Utina.
"Lihat saja nanti, kita fight saja kalau dengan Sriwijaya, walau hasil draw aman, kita enggak mau kehilangan muka dengan adanya empat pemain mantan Persib di sana," tegas Umuh soal hal tersebut.
DEJAN: JANGANKAN BELENCOSO, RONALDO PUN BAKALAN HÉSÉ MAÉN DI INDONESIA !
Pada pertandingan melawan PS. TNI, Dejan tampak menurunkan Belencoso secara penuh. Ketika ditanya mengenai performa Belencoso, Dejan menilai Belencoso masih perlu beradaptasi dengan sepak bola Indonesia.
.
“Kita bisa melihat, dia (Belencoso) datang dari tim yang selalu juara. Ia mencetak gol di setiap pertandingan. Tetapi sepak bola Indonesia berat sekali, berbeda dengan sepak bola di Hongkong. Di Hongkong Kitchee FC bisa menang telak terus, tetapi di sini semua tim sama-sama kuat.”, ujarnya pada konferensi pers usai pertandingan dengan PS. TNI, Kamis 24/3 di Stadion Si Jalak Harupat.
.
Menurut pelatih berpaspor Serbia ini, Belencoso perlu mendapat kesempatan untuk beradaptasi agar dapat membantu tim. Dejan menilai, Cristian Ronaldo pun akan perlu waktu beradaptasi bila diajak bermain untuk Persib Bandung. “Kalau kamu bawa (Cristiano) Ronaldo ke sini pasti ada sedikit masalah”.
.
Dejan pun melanjutkan bila selalu akan ada proses adaptasi bagi siapa saja, Tetapi proses itu harus diikuti karena kalau tidak akan menyulitkan tim ke depannya. Dejan pun menaruhkan harapannya pada Belecoso dan percaya bahwa Belencoso bisa membantu Persib.
Sumber : info terkini persib
Kamis, 24 Maret 2016
PERSIB LOLOS KE SEMI FINAL PIALA BHAYANGKARA 2016
Catatan DeHa - PERSIB memastikan langkah mereka ke semifinal Piala Bhayangkara 2016. Hal itu diperoleh setelah mereka mengalahkan PS TNI dua gol tanpa balas.
Dua gol dari laga yang berlangsung di Stadion Si Jalak Harupat, Kamis (24/03/2016) tersebut diciptakan Samsul Arif menit ke-45 dan Atep pada menit ke-46.
PS TNI awalnya sempat memberikan perlawanan yang sengit. Di awal-awal babak pertama, mereka lebih banyak menciptakan peluang ketimbang Maung Bandung yang terlihat kesulitan.
Namun kejelian staf pelatih PERSIB dalam memanfaatkan waterbreak layak diacungi jempol. Ini terlihat setelah istirahat sejenak pada menit ke-30 itu, tim asuhan Dejan Antonic itu lebih beringas dan aktif dalam menciptakan peluang.
Gol PERSIB pun lahir, tepatnya pada penghujung babak pertama melalui tendangan bebas Samsul Arif. PERSIB pun unggul 1-0 saat kedua tim menuju ruang ganti.
Terlecut dengan gol indah Samsul, Atep seolah tak mau kalah. Belum semenit babak kedua dimulai, ia melepaskan cannon ball dari luar kotak. Tendangan yang menjadi spesialisasi sang kapten Maung Bandung itu tak mampu dijangkau kiper PS TNI, Dhika Bhayangkara. PERSIB 2-0 PS TNI.
Lawan bukannya tanpa peluang. Pada menit ke-63 dan 70, mereka sempat mencoba melakukan apa yang dicetak Samsul. Tapi, tendangan bebas Guntur Triaji dan Manahati Lestusen belum bisa menggetarkan jala gawang PERSIB.
Skor 2-0 menjadi akhir dari laga ini. Selain kembali mencatatkan menang dengan clean sheet, tambahan tiga angka ini pun membuat Maung Bandung menyamai perolehan tujuh poin Sriwijaya FC.
Laga terakhir melawan Tim yang bermarkas di Palembang itu pun dipastikan akan berjalan sengit. Sebab, keduanya akan memperebutkan status juara grup A.
Sumber : persib.co.id
Rabu, 23 Maret 2016
Belencoso Ingin Akhiri Puasa Gol
Catatan DeHa - Striker PERSIB, Juan Carlos Belencoso siap main menghadapi PS TNI pada pertandingan lanjutan turnamen Bhayangkara di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Kamis (24/3/2016) besok. Ia akan memberikan permainan terbaiknya pada laga tersebut, termasuk mencoba mencetak gol pertama guna membawa kemenangan buat PERSIB.
Tekad meraih poin penuh itu tidak lepas dari target tim yang ingin lolos babak semifinal. Maung Bandung saat ini baru mempunyai empat poin dari dua laga, sementara Sriwijaya FC yang mempunyai tujuh poin sebagai puncak klasemen sementara Grup A.
"Persiapan kita baik, hari ini setelah pertandingan, pelatih telah mempersiapkan untuk laga esok. Saya selalu menikmati setiap pertandingan, itu normal bila kita bermain bersama. Sekarang kita harus memenangkan pertandingan karena kita harus meraih tiga poin untuk bekal ke semifinal," kata Belencoso, Rabu (23/6/2016).
Meskipun punya tekad mencetak gol, pemain yang didatangkan dari Kitchee SC ini tetap mementingkan kemenangan buat timnya. Dia tidak mau egosis hanya mementingkan dirinya mencetak gol. Siapapun yang cetak gol tidak masalah, yang penting PERSIB menang.
"Semua pemain siap untuk laga ini. Lawan kita punya kecepatan dan kuat, tapi PERSIB bisa mengatasinya. Saya ingin memberikan titel untuk tim ini, saya tidak mengkhawatirkan bisa cetak gol atau tidak yang penting tim bisa menang, karena seorang striker tidak harus mencetak gol," ucapnya.
Sumber : persib.co.id
PREVIEW PIALA BHAYANGKARA: PS TNI - PERSIB BANDUNG
Catatan DeHa
PS TNI menilai Persib sudah kembali ke karakter asli, sedangkan Herrie mengkhawatirkan absennya Vujovic.
Asisten pelatih PS TNI Edi Syahputra mewaspadai amukan Persib Bandung dalam lanjutan Grup A turnamen Piala Bhayangkara di Stadion Si Jalak Harupat, Kamis (24/3) petang WIB.
Edi menilai Persib sudah kembali menemukan karakter mereka. Hal tersebut terlihat dari permainan Maung Bandung ketika mengalahkan Pusamania Borneo FC akhir pekan kemarin. Selain itu, Edi harus memutar otak lebih keras untuk menentukan komposisi pemain, mengingat mereka dilanda kelelahan.
“Menghadapi Persib, saya mesti putar otak, karena pemain saat ini sudah kelelahan. Sementara Persib punya waktu yang berbeda. Kita akan adakan rotasi pemain untuk beberapa posisi,” ungkap Edi.
“Di laga pertama kekurangan Persib terlihat, seperti kehilangan karakter, tidak terlihat lagi umpan-umpan pendek rapat. Di laga kedua, Persib berubah, sudah nampak lagi karakternya.”
“Semua pemain Persib wajib diwaspadai, lepas dari absennya [Vladimir] Vujovic. Semua pemain PS TNI harus tanggung jawab. Siapa yang lebih dekat, dia yang mengejar.”
Ancaman itu tentunya tidak menguntungkan bagi Persib. Asisten pelatih Herrie Setyawan mengaku absennya Vujovic cukup merugikan bagi Persib, walau Agung Pribadi sudah bisa dimainkan.
“Yang kita khawatirkan sekarang di posisi bertahan, karena enggak ada Vujovic. Kita lihat saja nanti penggantinya. Kalau untuk Agung, dia sudah bisa kembali main. Untuk Purwaka [Yudhi] dan Hermawan, sejauh ini sudah baik, sudah bisa diturunkan,” jelas Herrie.
Persib kembali akan menumpukan harapan kepada Samsul Arif. Striker Persib ini mencetak gol penentu kemenangan ketika mengalahkan Pusamania. Herrie meyakini Samsul akan memberikan kontribusi besar lagi di laga nanti.
“Itu kelebihan Samsul. Dia bisa memanfaatkan, dan membuat peluang sendiri. Dia bisa shooting. Itu bagus untuk tim, sehingga ada aura yang berbeda,” sanjung Herrie. (gk-68)
Prakiraan susunan pemain kedua tim:
PS TNI: Guntur Pranata; Wiganda Pradika, Wanda Syahputra, Hardiantono, M. Abduh Lestaluhu; Legimin Raharjo, Manahati Lestusen, M Guntur Triaji, Wawan Febrianto, Tambun Naibaho; Dimas Drajad.
Persib: I Made Wirawan; Yanto Basna, Hermawan, Purwaka Yudhi, Tony Sucipto; Haryono, Taufiq, Kim Jeffrey Kurniawan, Atep, Tantan, Juan Carlos Belencoso.
sumber : goal.com
Striker JC Rodriguez Belencoso: Mereka Cepat dan Kuat, Tapi Persib Bandung bisa Mengatasinya
Catatan DeHa - Menghadapi pergerakan PS TNI yang dimotori oleh para pemain muda, striker Persib Juan Carlos Rodriguez Belencoso memiliki strategi khusus untuk meredam tim militan tersebut di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Kamis (24/3/2016).
PS TNI dikenal dengan permainan yang keras dan cepat khas prajurit TNI.
Tim bentukan Mabes TNI makin galak dengan dimotori oleh pemain-pemain muda yang berlabel Timnas seperti Wawan Febrianto, Tambun Naibaho, Iman Faturrahman dan M Arsyad.
"Mereka cepat dan kuat, tapi Persib Bandung bisa mengatasinya, saya harus berlari lebih banyak karena pemain muda yang dimiliki tim lawan akan menyulitkan kami," ujar Belencoso di Hotel Papandaya, Kota Bandung, Rabu (23/3/2016).
Belencoso enggan pusing memikirkan riwayat pertemuan kedua tim yang diwarnai kekalahan Persib 0-2 di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo.
Hanya, ia memastikan bahwa semua pemain termasuk dirinya siap untuk melakoni laga Kamis (24/3/2016).
"Persiapan kita baik, pelatih telah mempersiapkan program untuk laga besok, saya akan memberikan yang terbaik," kata pemain asal Negeri Matador tersebut.(*)
Sumber : Tribun Jabar
