Rabu, 31 Agustus 2016

Agar Diri Menjadi Lebih Baik



Catatan DeHa - Merubah diri dari lalai menjadi taat memang tidak mudah. Mengangkat kaki dari suatu kekeliruan yang sudah lama dilakukan, lalu memindahkannya keatas jalan yang benar dan baik, itu sulit. Seperti yang dikatakan Imam Ibnul Jauzi,


”Jangan sekali-kali engkau menganggap jalan (merubah diri menjadi baik) itu mudah. Jalan itu dipenuhi sesuatu yang kita benci, banyak halangan, penuh duri-duri tajam yang bisa membuat kita sakit.”



Hanya saja, jika kita sudah berhasil melewatinya, kita akan melupakan seluruh rasa sakit, seluruh keletihan itu. Jika kita telah melewatinya, kita akan merasakan kelazatan yang tak terbandingi oleh kelazatan manapun dari kelazatan duniawi yang pernah kita rasakan.



Saudaraku,



Menjadi baik itu mungkin, bagi siapa saja. Karena rentang waktu yang tersedia bagi manusia memberi kesempatan yang sangat berharga untuk berubah, berbuat dan menata ulang keperibadianya.



Memang proses menjadi baik itu panjang. Tetapi keputusan untuk memulai menjadi baik hanya memerlukan waktu beberapa saat. Ya, perbaikan diri memang tak kenal henti. Tetapi kemahuan dan kemantapan untuk memulai perbaikan diri hanya perlu waktu sebentar. Hanya dibutuhkan kejujuran didasar hati. Agar fitrah manusia berbicara apa adanya. Saat itu jawabannya akan langsung ada, bahwa setiap kita harus menjadi baik, dan semakin jadi lebih baik, memulai menjadi baik, atau setidaknya memilih untuk jadi baik.



Hadis Rasullullah menggaris seperti di bawah ini bahwa memperbaiki diri merupakan bagian dari irama hidup seorang muslim. Seperti nampak jelas dalam sabda beliau,



“Sesungguhnya manusia itu banyak salahnya. Dan sesungguhnya sebaik-baik orang yang banyak salahnya, adalah orang yang banyak bertaubat.” (HR. Tirmidzi)



Banyak salahnya, artinya kesalahan itu sangat mungkin terjadi. Maka, meratapi dan menyesali kekurangan dan kesalahan itu perlu. Tetapi yang jauh lebih perlu lagi, adalah bagaimana memperbaiki kesalahan itu.



Setiap orang atau setiap peribadi pernah berbuat salah dan keliru. Setiap jiwa pernah salah arah dan salah langkah.



Mari kita dengarkan indahnya uraian nasihat Imam Ibnul Jauzi dalam kitab Shaidul Khatir tentang tahapan perjalanan yang harus kita lakukan untuk menjadi lebih baik.



① DIAM



Yang pertama menurut Imam Ibnul jauzi adalah adalah memperbanyak diam untuk melatih jiwa agar tidak banyak mengeluarkan komentar dan tidak mudah bergolak, karena dalam diam engkau akan lebih mudah meraba keburukan. Jika engkau sudah bisa merabanya, maka jiwa akan luluh dan hancur, lalu menyadari bahwa dirimu berada dijalan yang berlawanan dari kehendak Allah SWT.



② BERLAMA-LAMA MENGINGAT DOSA DAN MELUPAKAN KETAATAN MU



“Jika engkau menyadari diri telah lalai dan melakukan dosa. Jadikanlah dirimu, berlama-lama mengingat dosa itu, dan besar-besarkan ingatan tentang akibat dari kelalain itu. Munculkanlah anggapan seolah-olah kita tidak melakukan ketaatan apa-apa kecuali kemaksiatan itu. Sampai engkau yakin akan hancur bila tidak segera bertaubat. Sampai suara hati kita berteriak dan menangis."



③ TINGGALKAN SEMUA SEBAB KEMAKSIATAN



“Tapi, jika jiwamu tidak bangkit, dan air mata tidak mengucur juga, sampaikanlah kepada hati dan jiwa bahwa engkau tetap harus lepas diri dari kemaksiatan itu. Dan langkah ini tidak akan terjadi kecuali jika engkau tinggalkan semua sebab kemaksiatan, meninggalkan semua orang, semua teman, semua benda yang menjadi sebab dan tangga maksiat."



④ LEMAHKAN JIWA DENGAN RASA LAPAR



“Jika Jiwamu masih belum bisa melakukan itu dan menolaknya, maka hancurkanlah kekerasan jiwa dengan memperbanyak puasa, hinakanlah ia dengan rasa lapar. Karena sesungguhnya jiwa jika mengalami rasa sakit karena lapar, ia kan tunduk, mau mendengar dan cenderung pasrah untuk menerima apa saja.”



⑤ PERANGI SIKAP MENUNDA-NUNDA



“Bahwa tekad meninggalkan kemaksiatan sangat rentan (berkait) dengan gangguan menunda-nunda, dengan seribu satu alasan, jika engkau mendapati jiwa ingin menunda-nunda untuk kembali, dan membayangkan waktu masih panjang atau pendek, bawalah ia secara paksa untuk mengingat tak ada ajal yang bisa diperkirakan."



"Selanjutnya jiwa yang sudah dikosongkan dari kemaksiatan harus segera diisi dengan kebalikan dari apa yang telah telah ditinggalkan dan mencari teman untuk jiwamu yang bisa memberi petunjuk, daripada teman yang bisa melupakan."



Saudara,



JIka ini bisa kita lakukan, kelak cahaya ketaatan pengganti kelalaian itu akan terus merasuki jiwa dan semakin bersinar-sinar mengusir kegelapan hawa nafsu.



Sungguh waktu kita singkat saudaraku. Sebelum semuanya berakhir, sebelum nyawa sampai ke tenggorokan. Maka kita harus memperbaiki diri. Karena seorang muslim itu dituntut untuk melakukan perbaikan diri. Bukankah Rasul kita menganjurkan agar hari ini lebih baik dari hari kemaren (kelmarin), itu baru bisa disebut beruntung. Seandainya hari ini lebih buruk dari kelmarin, maka kita dianggap celaka. Bahkan jika hari ini sama dengan hari kelmarin maka kita dianggap merugi.
sumber : G+