Catatan DeHa,
SEBAGIAN dari kita banyak yang mencomooh orang-orang yang datang untuk memohon meringankan beban hidup mereka. Terutama jika orang tersebut memiliki status sosial yang tinggi atau memiliki harta berlimpah. Ia tidak tahu dan sadar orang yang membantu meringankan beban saudaranya selalu mendapat bantuan Allah.
Allah akan selalu menolong seseorang selama orang itu mau membantu saudaranya yang lain. Jika kita memenuhi kebutuhan saudara kita yang lain. Jika kita memenuhi kebutuhan saudara kita seperti mengajar, membimbing, memberi pinjaman uang atau menolongnya dalam kebaikan maka itu lebih utama dan baik di sisi Allah dari pada pahala I’tikaf selama sebulan penuh.
Abdullah bin Umar meriwayatkan, Nabi SAW bersabda, “Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah membahagiakan Muslim yang lain atau meringankan bencana yang menimpanya atau melunasi utangnya atau memberinya makan. Sungguh saya lebih suka berjalan dengan seorang Muslim dalam suatu kebutuhannya, daripada beri’tikaf di masjid selama sebulan. Barangsiapa yang dapat menahan amarahnya Allah akan menutup aibnya. Dan barangsiapa yang menahan amarahnya jika ia mau ia melakukannya, niscaya Allah akan penuhi hatinya dengan keridhaan pada hari kiamat. Barangsiapa yang berjalan bersama saudarany Muslim dalam satu kebutuhan hingga membuatnya kuat dan kokoh, Allah akan memantapkan kakinya pada hari di mana kaki tak dapat berpijak dengan kokoh. Dan akhlak yang jelek dapat merusak amalan seperti cuka merusak madu.” (HR. Thabrani)
Membantu meringankan kebutuhan saudara kita kadang tidak memakan waktu lebih dari setengah jam. Dengan begitu, pahala I’tikaf selama sebulan tercatat dalam catatan kebaikan kita. Subhanallah.[]
Sumber: Manajemen Umur Resep Sunnah Menambah Pahala dan Usia/Karya: Muhammad bin Ibrahim an-Nu’aim/Penerbit: Pustaka at-Tazkia
Jumat, 25 Maret 2016
Pahala Besar Meringankan Beban Orang Lain
Kamis, 24 Maret 2016
CATATAN SEORANG DOKTER
Sejak pulang dari itikaf di masjid selama tiga hari bersama jamaah dakwah, dokter Agus menjadi pribadi yang berbeda. Sedikit-sedikit bicaranya Alloh, sedikit-sedikit bicaranya Rasulullah.
Cara makan dan cara tidurnya pun berbeda, katanya itulah cara tidur Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
Rupanya, pengalaman itikaf dan belajar di masjid betul-betul berkesan baginya. Ada semangat baru.
Namun beliau juga jadi lebih banyak merenung. Dia selalu teringat-ingat dengan kalimat yang dibicarakan amir jamaah.
“Obat tidak dapat menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah Alloh.
Obat bisa menyembuhkan berhajat kepada Alloh, karena sunnatullah.
Sedang Alloh menyembuhkan, tidak berhajat melalui obat.
Alloh bisa menyembuhkan dengan obat atau bahkan tanpa obat.
Yang menyembuhkan bukanlah obat, yang menyembuhkan adalah Alloh.”
Dia-pun merenung, bukan hanya obat, bahkan dokter pun tidak punya upaya untuk memberi kesembuhan. Yang memberi kesembuhan adalah Alloh.
Sejak itu, sebelum memeriksa pasiennya, ia selalu bertanya.
“Bapak sebelum kesini sudah izin dulu kepada Alloh?” atau “Sudah berdoa meminta kesembuhan kepada Alloh?” atau “Sudah lapor dulu kepada Alloh?"
Jika dijawab belum (kebanyakan memang belum), beliau meminta pasien tersebut mengambil air wudhu, dan shalat dua rakaat di tempat yang telah disediakan
Jika memberikan obat, beliau pun berpesan dengan kalimat yang sama. “Obat tidak bisa menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah Alloh. Namun berobat adalah sunnah dari Rasululloh shallallahu 'alaihi wasallam dan sebagai ikhtiar dan sunnatullah, agar Alloh mau menyembuhkan”.
Ajaib! banyak pasien yang sembuh.
Jika diperiksa dengan ilmu medis, peluang sehatnya hampir tidak ada, ketika diberikan terapi “Yakin” yang diberikan beliau, menjadi sehat.
Pernah ada pasien yang mengeluh sakit, beliau minta agar orang tsb untuk shalat dua rakaat (minta ampun dan minta kesembuhan kepada Alloh), ketika selesai shalat pasien tersebut langsung merasa sehat dan tidak jadi berobat.
Rudi, Asistennya bertanya, kenapa dia langsung sembuh?
Dr. Agus katakan, bisa jadi sumber sakitnya ada di hati, hati yang gersang karena jauh dari Alloh.
Efek lain adalah pasiennya pulang dalam keadaan senang dan gembira. Karena tidak hanya fisiknya yang diobati, namun batinnya pun terobati.
Hati yang sehat, membuat fisik yang kuat. Dan sebaik-baik obat hati adalah Dzikir, Al-Quran, Wudhu, Shalat, Do'a dan tawakal pada Alloh.
Pernah ada pasien yang jantungnya bermasalah dan harus dioperasi.
Selain “Yakin”, beliau juga mengajarkan terapi cara hidup Rasululloh. Pasien tersebut diminta mengamalkan satu sunnah saja, yaitu sunnah tidur. Sebelum tidur berwudhu, kalau bisa shalat dua rakaat, berdoa, berdzkir, menutup aurat, posisi kanan adalah kiblat, dan tubuh miring ke kanan.
Seminggu kemudian, pasien tersebut diperiksa. Alhamdulillah, tidak perlu dilakukan operasi. Alloh telah memberi kesembuhan atasnya.
Ada juga pasien yang ginjalnya bermasalah. Beliau minta agar pasien tersebut mengamalkan sunnah makan dan sunnah di dalam WC.
Makan dengan duduk sunnah sehingga posisi tubuh otomatis membagi perut menjadi 3 (udara, makanan, dan air). Kemudian buang air kecil dengan cara duduk sunnah, menguras habis-habis kencing yang tersisa dengan berdehem 3 kali, mengurut, dan membasuhnya dengan bersih.
Seminggu kemudian, saat diperiksa ternyata Alloh berikan kesembuhan kepada orang tersebut.
Rudi pernah sedikit protes.
Sejak melibatkan Alloh, pasiennya jadi jarang bolak-balik dan berisiko mengurangi pendapatan beliau.
Namun Dr. Agus katakan bahwa rezeki adalah urusan Alloh. Dan beliau jawab dengan kalimat yang sama dengan redaksi yang berbeda, bahwa “Sakitnya pasien tidak dapat mendatangkan rezeki, yang memberi rezeki adalah Alloh.
Alloh juga bisa mendatangkan rezeki tanpa melalui sakitnya pasien”.
Enam bulan berikutnya seorang pasien yang pernah sembuh karena diminta shalat oleh beliau, datang ke klinik, mengucapkan terima kasih, dan berniat mengajak dokter serta asistennya umroh bulan depan.
Dr. Agus kemudian memanggil Rudi ke dalam ruangan. Sebenarnya beliau tahu bahwa Rudi ingin: sekali berangkat umrah. Namun kali ini beliau ingin bertanya langsung dengannya.
“Rudi, bapak ini mengajak kita untuk umrah bulan depan, kamu bersedia?”
Rudi tidak menjawab, namun matanya berbinar, air matanya tampak mau jatuh.
“Sebelum menjawab, saya izin shalat dulu pak,” ucapnya lirih. Ia shalat lama sekali, sepertinya ini shalat dia yang paling khusyu'.
Pelan, terdengar dia terisak-isak menangis dalam doanya.
(Dr Agus Thosin, SpJP praktek di RSAI Bandung).
Sumber : https://plus.google.com/114454831272476932056/posts/T4ggpTkLVTv
Selasa, 22 Maret 2016
6 Cara Membersihkan dari Penyakit Hati
Catatan DeHa - Ibnul Qayyim berkata, “Jadi, hati adalah ibarat raja bagi anggota tubuh. Anggota tubuh akan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh hati dan akan menerima semua arahan-arahan hati.- Dengan shalat malam atau Qiyamullail (Qumillaila illah qaliilaa)Rasulullah SAW bersabda dari Salim bin Abdullah bin Umar ,”Sebaik-baik seorang laki-laki hamba Allah adalah sekiranya ia melaksanakan sholat malam”.Berkata salim, ‘Maka Abdullah bin Umar sesudah itu tidak tidur di malam hari,kecuali sedikit.”(HR.Bukhari No.4528)Dalam riwayat lain,Rasulullah SAW bersabda, “Sholat yang paling utama setelah sholat fardhu adalah Qiyamullail”. (HR.Muslim)
Membersihkan hati dengan membaca Al Qur’an(Wa rattilil qur’aana tartiila)Al Qur’an bila dibaca dengan syahdu,teliti baik makhroj hurufnya,tajwidnya maupun maknanya maka akan menjadi penawar hati untuk membersihkan segala penyakit hati.Allah Berfirman, “Dan Kami turunkan dari Al Qur’an(sesuatu) sebagai penawar dan rahmat bagi orang yang beriman,sedangkan bagi orang yang zalim hanya akan menambah kerugian.”(QS.Al Isra’:82)
Membersihkan hati dengan dzikir (Wadzkurisma robbika)Zikir yang berarti mengingat Allah SWT dalam keadaan apapun sebagaimana yang tercantum dalam surah Ali Imran ayat 191. Mensucikan hati dengan tabattal (Wa tabattal ilaihi tabtiilaa).Dalam tafsir Ibnu Katsir,makna tabattal adalah mengkhususkan diri semata untuk beribadah kepada Allah saja dan Al-Qurthubi menambahkan dengan:”… dan jangan engkau menyekutukan dengan selain-Nya.”
Mensucikan diri dengan bertawakkal hanya kepada Allah SWT(Fattakhidzu wakiilaa).Tawakal artinya beserah diri kepada Allah.Allah berfirman, “ Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah,niscaya Allah akan mencukupkan keperluan-Nya. Dan akan memberikannya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka"(At Thalaq:2-3)
Mensucikan dengan bersabar terhadap perkataan orang (Washbir‘alaa maa yaquulun).Kesabaran disini diartikan seperti kesabaran dalam menghadapi fitnah,intimidasi dan terhadap kaum yang tidak menyukai Islam.Allah SWT berfirman,“Dan bersabarlah(Muhammad)dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap(kekafiran)mereka dan jangan(pula) bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan”. (QS.An Nahl:127)
Mensucikan diri dengan hijrah secara baik (Wahjurhum hajran jamiilaa).Rasullah SAW bersabda, “Orang yang berhijrah,ialah orang yang berhijrah(meninggalkan)kejahatan.Dan orang yang berjihad ialah orang yang berjuang melawan hawa nafsunya”.(HR.Ibnu Majah dan An-Nasaa’i)
